Thursday, January 30, 2014

Kunci Sukses Seorang Anak (repost)

Kunci Sukses Seorang Anak


Ibu berdoa sambil menangis - ilustrasi
Umar bin Khaththab pernah memberi taujih, "Bersikap manjalah di depan ibu dan istrimu." Yang pertama, sudah berhasil saya praktekan. Dan ini sangat manjur. Saya memperoleh kekuatan dahsyat setiap selesai mudik. Dimana ketika mudik, acara saya adalah membersamai beliau.

Mulai dari mencium pipi dan kening, mencium tangan beliau sehari lima kali, memijiti pundak beliau, mendengarkan kisah ceria beliau, sampai menemani beliau memasak dan berbelanja. Ya, meski sekedar membantu mengisi panci dengan air untuk direbus, menumbuk aneka bahan sambal ataupun mempersiapkan bahan-bahan masakan. Yang tak kalah serunya, memboncengkan beliau ke pasar yang jauhnya sekitar sepuluh kilo meter dari ‘surga’ kami.

Di sepanjang jalan, ibu bercerita banyak hal. Tentang mimpinya, tentang kesehariannya jika saya tidak di rumah, tentang masjid, imam dan jama'ahnya, juga tentang siapa yang telah mati dan siapa yang nikah atau nikah lagi.

Nah, beberapa bulan yang lalu, saya diliputi perasaan bersalah lantaran merasa belum bisa membahagiakan ibu. Alhasil, saya menelpon beliau. Sedetik setelah mengucap salam, air mata saya tumpah. Beliau bingung. Saya hanya berucap, "Maafkan saya Bu. Saya belum bisa membahagiakan Ibu. Doakan agar kami menjadi anak sholih dan bisa membuat Ibu bahagia."

Beliau bingung. Namun beliau sangat memahami anak-anaknya. Beliau hanya menjawab lirih, penuh tenaga, "Gak apa-apa, Nak. Ibu tak akan pernah lelah dan tak akan pernah lupa mendoakan kalian semua. Terima kasih untuk baktimu selama ini."

Maka menangis, bagi saya adalah ekspresi jiwa. Bukan perlambang kelemahan. Tapi pekanya hati. Sebelum tangis syahdu itu, saya tunaikan witir. Dan setelahnya, saya tidur dengan sangat tenang.


Pagi hari, sebelum genap jam 7 pagi, ada sms masuk bahwa salah satu pembeli buku sudah melakukan transfer. Tak berselang lama, ada konfirmasi sejenis. Bahkan, ada satu transferan masuk yang belum konfirmasi sampai beberapa jam setelahnya.

Siang pun damai. Sudah menyelesaikan 2 tulisan. Satu sudah dimuat di website dan satunya dikirim ke media cetak. Semoga tulisan kedua menemukan takdir terbaiknya.

Ibu itu, bagi saya, orang tercantik di dunia ini. Jika kemarin ada yang bilang bahwa hanya doa ibu yang bisa mengalahkan Barcelona. Maka menurut saya, saat ini, hanya doa Ibu yang bisa mengalahkan Bayern Muenchen. :D

Ibu, adalah oase di tengah kegersangan dunia yang penuh makar. Mari, cintai Ibu, melebihi cinta kita kepada diri kita sendiri. 

Kisah Benar. Inilah Beza Doa Seorang Ibu Dan Seorang Anak

Kisah Benar. Inilah Beza Doa Seorang Ibu Dan Seorang Anak


Kisah Benar. Inilah Beza Doa Seorang Ibu Dan Seorang Anak.

Alhamdulillah dah masuh Ramadhan kedua dah harini. Hopefully kita terus diberikan kesihatan yang baik untuk menjalani Ibadah Puasa Ramadhan dan amalan-amalan sunat yang lain. Harini Dr Fuh nak share satu kisah benar. Lama benar rasanya Dr Fuh tak share kisah benar ni. Kisah benar ni adalah berkenaan hal ibu dan anak. Jom sama-sama kita renungi kisah benar ini. Semoga menjadi iktibar kepada kita semua.

Kisah Benar. Inilah Beza Doa Seorang Ibu Dan Seorang Anak

Pada suatu hari, seorang pemuda yang bernama Faizal terlibat dalam kemalangan. Dia dilanggar oleh sebuah teksi di sebatang jalan raya.Akibat daripada kemalangan itu dia cedera parah. Kepalanya luka, tangannya patah dan perutnya terburai. Setelah dibawa ke hospital, doktor mendapati keadaannya terlalu teruk dan menjangkakan dia tidak ada harapan lagi untuk hidup. Ibunya, Jamilah segera dihubungi dan diberitahu tentang kemalangan yang menimpa anaknya.
Hampir pengsan Jamilah mendengar berita tentang anaknya itu. Dia segera bergegas ke hospital tempat anaknya dimasukkan.Berlinang air mata ibu melihat keadaan anaknya. Walaupun telah diberitahu bahawa anaknya sudah tiada harapan lagi untuk diselamatkan, Jamilah tetap tidak henti-henti berdoa dan bermohon kepada Allah agar anaknya itu selamat.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, keadaan Faizal tidak banyak berubah. Saban hari Jamilah akan datang menjenguk anaknya itu tanpa jemu. Saban malam pula Jamilah bangun untuk menunaikan solat malam bertahajjud kepada Allah memohon keselamatan anaknya. Dalam keheningan malam, sambil berlinangan air mata, Jamilah merintih meminta agar anaknya disembuhkan oleh Allah.
Ini adalah antara doa Jamilah untuk anaknya itu ;
”Ya Allah ya Tuhanku, kasihanilah aku dan kasihanilah anak aku. Susah payah aku membesarkannya, dengan susu aku yang Engkau kurniakan kepadaku, aku suapkan ke dalam mulutnya. Ya Allah, aku pasrah dengan apa jua keputusan-Mu! Aku redho dengan qada’ dan qadar Mu yaa Allah.”
”Yaa Allah, dengan air mataku ini, aku bermohon kepadaMu, Engkau sembuhkanlah anakku dan janganlah Engkau cabut nyawanya. Aku sangat sayang kepadanya. Aku sangat rindu kepadanya. Susah rasanya bagiku untuk hidup tanpa anakku ini. Terngiang-ngiang suaranya kedengaran di telingaku memanggil-manggil aku ibunya.”
“Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan hanya Engkau saja. Tunjukkanlah kuasa Mu ya Allah. Aku reda kalau anggota badanku dapat didermakan kepadanya agar dengannya dia dapat hidup sempurna kembali.”
“Ya Allah, aku redho nyawaku Engkau ambil sebagai ganti asalkan Engkau hidupkan anak kesayanganku. Engkaulah yang Maha segala hal, berkat kebesaran Mu ya Allah, terimalah doaku ini….aamiin”.
Keyakinan Jamilah terhadap kuasa Ilahi sangat kuat walaupun tubuh badan anaknya hancur cedera dan dikatakan sudah tiada ada harapan lagi untuk hidup. Namun, Allah benar-benar mahu menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya.
Setelah 5 bulan terlantar, akhirnya Faizal menampakkan tanda-tanda kesembuhan dan akhirnya dia sembuh sepenuhnya. Berkat doa seorang ibu yang ikhlas.
Faizal dapat meneruskan hidupnya hingga berumahtangga dan beranak-pinak. Ibunya, Jamilah semakin hari semakin tua dan uzur.
Suatu hari, Jamilah yang berusia hampir 75 tahun jatuh sakit dan dimasukkan ke hospital. Pada mulanya, Faizal masih melawat dan menjaga ibunya di hospital. Tetapi semakin hari semakin jarang dia datang menjenguk ibunya hinggalah pada suatu hari pihak hospital menghubunginya untuk memberitahu keadaan ibunya yang semakin teruk.
Faizal segera bergegas ke hospital. Di situ, Faizal dapati keadaan ibunya semakin lemah. Nafas ibunya turun naik. Doktor memberitahu bahawa ibunya sudah tidak ada masa yang lama untuk hidup. Ibunya akan menghembuskan nafasnya yang terakhir pada bila-bila masa saja.
Melihat keadaan ibunya yang sedemikian dan kononnya beranggapan ibunya sedang terseksa, lantas Faizal terus menadah tangan dan berdoa seperti ini;
“ Yaa Allah, seandainya mati lebih baik untuk ibu, maka Engkau matikanlah ibuku! Aku tidak sanggup melihat penderitaannya. Yaa Allah, aku akan redho dengan pemergiannya…Aamin.”
Begitulah bezanya doa ibu terhadap anak dan doa anak terhadap orang tuanya. Apabila anak sakit, walau seteruk mana sekalipun, walau badan hancur sekalipun, walau anak tinggal nyawa-nyawa ikan sekalipun, namun ibu bapa akan tetap mendoakan semoga anaknya diselamatkan dan dipanjangkan umur.
Tetapi anak-anak yang dikatakan ‘baik’ pada hari ini akan mendoakan agar ibu atau bapanya yang sakit agar segera diambil oleh ALLAH, padahal ibu bapa itu baru saja sakit. Mereka meminta pada Allah agar segera mematikan ibu atau bapanya kerana kononnya sudah tidak tahan melihat ‘penderitaan’ ibu bapanya.
Anda bagaimana? Apa doa anda untuk ibu bapa anda?
Dr Fuh - Lihatlah bertapa sayangnya ibu terhadap anaknya sampai tidak sanggup melihat anaknya pergi terlebih dahulu sebelumnya. Walau seteruk mana pun sakit anaknya, beliau tetap berdoa supaya Allah menyembuhkan anaknya. Allahu Rabbi. Sayang EMAK sangat-sangat!


Sumber: Kisah Benar. Inilah Beza Doa Seorang Ibu Dan Seorang Anak | Fuh.My 

Mengapa Doa Ibu Mampu Menembus Langit?

Mengapa Doa Ibu Mampu Menembus Langit?


doa seorang ibu2 Mengapa Doa Ibu Mampu Menembus Langit?BUKANLAH tidak mungkin jika sangatlah banyak orang orang sukses di seluruh dunia ini lantaran mempunyai hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya terlebih kepada ibu. Kenapa? Karena ridha Allah ialah ridha orang tua, dan doa ibu itu sungguh tanpa hijab di hadapan Allah mudah menembus langit. Sehingga doa seorang ibu yang ia dipanjatkan untuk anaknya boleh jadi sangat mudah untuk Allah kabulkan.
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu. [ra/islampos/inspirasimotivasi]

Dibalik Keberhasilan Suami Ada Istri yang Hebat

Dibalik Keberhasilan Suami Ada Istri yang Hebat


[AMBON] Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Dr.Marlinda Irwanti,SE.Msi Dibalik keberhasilan dan kehebatan seorang istri ada suami yang lebih hebat. 

“Jadi kalau kita bicara konteksnya seperti ini, berarti peran antara laki-laki dan perempuan baik itu, di rumah domestic maupun public punya pengaruh secara luas terhadap keberhasilan keduabelah pihak dan anak-anaknya,” katanya dalam Dialog Publik bertajuk Peran Istri Dibalik Sukses Suami yang diselenggarakan DPD FPPI Provinsi Maluku di Aula RRI Ambon, pekan lalu. 

Kembali memang komitmen ketika kita memilih seorang suami, itu sebuah komitmen dengan segara resiko yang harus kita hadapi. Pilihan begitu banyak lelaki kita memilih bapak A, begitu banyak perempuan cantik bapak memilih si B. “Itu pilihan dan ketika kita memilih kita berkomitmen dan ketika komitmen dijalankan harus berani mengambil resikonya,” kata Marlinda. 

Hal-hal sepeti itu dalam kehidupan tidak bisa terlepas. Bagaimana ketika komitmen itu kita lakukan, kita lakukan peran-peran keseimbangan yang baik, mengkomunikasikan dengan baik, ada kemauan masing-masing. “Intinya kita harus komunikasikan. Ketika seseorang ingin jabatan tertentu mestinya kalimat yang dimulai saya akan mendiskuisakn dan mengkomunikasikan kepada keluarga saya,” kata Marlinda yang juga istri mantan Gubernur Aceh Abdullah Puteh ini. 

Karena akan ada pengorbanan, karena akan ada resiko-resiko yang akan dilakukan dalam keluarga. Jadi hal-hal yang mungkin sangat sederhana, ketika kita mengambil langkah-langkah yang lebih baik. Jadi ketika suami mendapat jabatan atau istri naik pangkat, harus komunikasikan ke keluarga siap atau tidak, manfaat apa yang kita peroleh. “Keluarga diajak bicara termasuk anak-anak. Diskusikan itu dalam keluarga sehingga ada kemudian peran-peran yang berubah,” tambah Marlinda yang saat ini juga menjabat Wakil Sekjen DPP Partai Golkar ini. 

Senada dengannya Wakil Ketua Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) Pendeta Dr.Lies Mailoa-Marantika mengatakan, jika kita bicara dalam konteks masyarakat patriakhal maka pengalaman menjadi pejabat public lalu menjadi luput, tidak menjadi perhatian, namun itu sebuah keputusan, sebuah pilihan. 

“Sebagai keluarga, sebagai pasangan yang selalu melihat suami dan istri dalam kerangka tanggungjawab yang sama untuk membangun kehidupan rumah tangga sehingga keseimbangan peran itu saling melengkapi tujuannya untuk membangun kehidupan rumah tangga,” kata Lies kepada SP menanggapi dialog public pekan lalu tersebut, Senin (14/1). 

Menurut Lies, apa yang menjadi keberatan ketika suami dan istri begitu sibuk dan tidak punya kemampuan untuk memanage kesibukannya dilihat dalam kaitan bagaiman menten keluarga kemudian menjadi hancur dan anak-anak berantakan. “Saya pikir dalam masyarakat modern sekarang dimana suami dan istri apalagi dalam konteks kehidupan ekonomi yang cukup sulit, anak-anak sekolah tuntutan untuk suami dan istri bekerja supaya menopang kebutuhan keluarga dan kita menginginkan anak-anak mendapat pendidikan yang memadai, memang ada resikonya. Contoh perempuan dalam advokasi berani mengambil resiko yang menurut dia membawa perubahan bagi masa depan anak-anaknya,” katanya. 

Bagaimana memainkan peran control ambisi suami peran control terhadap penyelenggaraan peran suami sehingga tidak terjebak dalam melakukan mengambil kebijaka-kebijakan tugas-tugas pejabat publik.

Agar Rejeki Berlipat Ganda

Agar Rejeki Berlipat Ganda


Foto ilustrasi dari science.lintas.me
Sedekah pada mulanya adalah berbagi. Apapun, asal kebaikan. Bahkan, mereka yang tidak mempunyai uang sekalipun, bisa bersedekah dengan senyum dan bermuka manis. Sabda Nabi, “Senyummu kepada saudaramu adalah sedekah.”

Kejadian ini terjadi sekitar 3 bulan yang lalu, tepatnya setelah Shalat Ashar. Ketika itu, saya tengah mengulang-ulang bacaan Surah al-Waqi’ah, surah ke 56 dalam al-Qur’an. Bagi saya, surah tersebut merupakan kunci ‘kekayaan’. Bagaimana tidak? Dalam sajian singkat itu, terpampang pemandangan indah seputar surga dan pemandangan mengerikan terkait neraka. Sehingga, dua hal ini saja, jika dihayati, akan membuat kita berharap surga dan cemas ketika kelak dimasukkan ke dalam jurang neraka. Dan itulah kaya yang sebenarnya, ketika surga lebih kita harapkan melebihi apapun di dunia ini.

Sesaat kemudian, saya teringat kalau ada beberapa teman yang melaksanakan puasa sunnah Senin - Kamis. Maka, sayapun beranjak merogoh kantong. Niatnya, membelikan sedikit makanan untuk mereka ketika masa berbuka tiba. Teringatlah sebuah hadits, “Barangsiapa menyediakan hidangan untuk berbuka kepada orang yang berpuasa, maka orang tersebut akan diberikan ganjaran berpuasa, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”

Niat pun tertunaikan dengan gemilang. Hanya Jus Sirsak dan sedikit makanan khas Indonesia, Gorengan. Nilai kesemua hidangan itu, hanya dua puluh lima ribu rupiah.

Sesaat sebelum maghrib, ‘rampasan perang’ tersebut saya bagikan kepada mereka yang telah saya jadikan target. Alhamdulillah, rasanya nikmat ketika bisa berbagi, meski ala kadarnya.

Tak lama kemudian, adzan berkumandang. Saya memilih menikmati teh tubruk buatan sendiri. Dan memakan gorengan rame-rame dengan teman-teman. Sekitar lima menit setelah adzan, ada Bos yang menghampiri. Teman-teman tengah mengambil lapaknya masing-masing. Beliau tiba-tiba menyodorkan lembaran rupiah berwarna biru, lima puluh ribu. Katanya, “Buat tambahan jajan.” Dengan tanpa basa basi, saya berucap, “Baik, Pak. Terima kasih ya.”

Sekitar lima menit berselang, Bos lain menghampiri. Kali ini, dia datang dari arah belakang. Tanpa saya perkirakan, beliau pun menyodorkan selembar uang rupiah berwarna merah, seratus ribu, dengan berucap, “Buat tambahan beli pulsa, Mas. Hadiah dari saya.” Tanpa koma, saya pun menerima hadiah tersebut dengan beriring senyum dan kalimat syukur, “Baik, Pak. Terima kasih ya. Alhamdulillah”

Setelah kedua Bos itu berlalu, saya baru berpikir. Ada dua rejeki beruntun. Jumlahnya pun lumayan bagi seorang karyawan pabrik seperti saya. Dalam jenak, saya berkesimpulan, “Mungkin, ini balasan dari Allah atas niat saya berbagi kepada teman-teman yang tengah berpuasa sunnah tadi. Sehingga uang dua puluh lima ribu, dibalas tunai dengan seratus lima puluh ribu. Enam kali lipat.”

Saya pun terdiam sembari bersyukur. Bahwa janji Allah itu benar. Ketika niat kita lurus, maka Allah akan membuktikan janjiNya. Sehingga, akhirnya kita harus sepakat, bahwa sedekah, jika dilakukan dengan ikhlas, hanya akan menghasilkan keberkahan bagi pelaku dan penerimanya.

Jikapun ia tidak berbalas saat itu, berarti Allah sedang mempersiapkan balasan lain, dengan jumlah yang lebih banyak, dan akan diberikan pada waktu yang paling tepat. Penundaan balasan itu, bisa juga untuk tabungan akhirat kita. Bukankah itu jauh lebih berharga dari nilai mata uang di dunia ini? Sebanyak apapun jumlahnya?

Semoga Allah menerima setiap sedekah kita. KarenaNya semata, bukan lantaran janji pelipatgandaan yang kadang tertunda pelaksanaannya. Karena prinsipnya, berbagi itu indah dan menyemangati. Maha benar Allah dengan firmanNya, “Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan serupa.”(Surah ar-Rahmaan [55] : 60)

Doa Istri Shalihah Antar Sukses Bisnis Suami (repost)

Doa Istri Shalihah Antar Sukses Bisnis Suami


5 Juli 2013 menjadi sebuah catatan spesial bagi saya dan 120 peserta seminar Bisnis Muslim pada Jumat malam itu. Diantara motivasi yang “membakar” semangat kami untuk berbisnis tanpa riba adalah kisah doa istri shalihah.

Dr Aan, pembicara utama pada malam hari itu mengisahkan bahwa istrinya telah meninggal setahun yang lalu. “Insya Allah syahid, karena meninggal dalam kondisi hamil,” tuturnya. Ya, istrinya dipanggil Allah saat hendak melahirkan sang anak.

Istrinya itulah yang berperan mengantarkannya menuju kesuksesan bisnis seperti yang diraihnya sekarang.

Bagaimana seorang istri bisa menjadi faktor utama dalam keberhasilan suaminya? Ternyata rahasianya adalah doa seorang istri shalihah yang didengarkan oleh Allah dan diijabahi. Istri Dr Aan yang sebelumnya adalah seorang fotomodel telah bertranformasi menjadi wanita yang berhijab dan shalihah. Seiring dengan itu, bisnisnya menghasilkan jauh lebih banyak dari profesinya sebagai dokter. Jika dulu ia punya banyak hutang dan hampir di semua bank di Indonesia, sekarang sudah sukses dan banyak berbagi dengan orang lain.

Banyak hal lain yang kami dapatkan dari seminar yang dilanjutkan workshop esuk harinya. Diantaranya, jika ingin sukses bisnis tanpa riba, kita tidak perlu berhubungan dengan bank –terutama bank konvesional- tetapi dekatilah orang yang sukses yang punya modal tetapi masih bingung untuk menjalankan usahanya. Caranya, presentasikan bisnis kita dan bagaimana cara bagi hasil seadil-adilnya. Dan jangan lupa, mintalah istri dan anak-anak mendoakan. Bisa jadi, keshalihahan istri dan kebersihan jiwa anak-anak kita-lah yang mengetuk pintu rezeki-Nya hingga tercurah deras untuk kita

Bisnis Cara Rasulullah : Riba, Antara Tujuan Produktif dan Konsumtif

Bisnis Cara Rasulullah : Riba, Antara Tujuan Produktif dan Konsumtif


    Kriteria riba yang berkembang di masyarakat memang beragam. Kita pernah membahas kriteria berlipat ganda, maka kali ini saya ingin membahas kriteria penggolongan riba berdasarkan tujuan peminjaman. Sementara masyarakat menganggap, bila peminjaman itu untuk tujuan konsumtif maka pengenaan bunga bisa dikategorikan riba. Namun bila peminjamannya untuk tujuan produktif, pengenaan bunga dikategorikan bukan riba. Sesungguhnya pendapat semacam ini tidak ada dalilnya dalam Islam.
Kalau kita cermati, memang terdapat sejumlah kelemahan. Dengan kriteria itu seolah-olah kita menganggap bahwa timbulnya riba disebabkan oleh penggunaan non-produktif. Padahal kita tahu, baik aktivitas produksi maupun konsumsi merupakan kegiatan halal untuk dilaksanakan, sepanjang tidak melanggar hal-hal yang dilarang oleh syara'e2'80'99.
Untuk pinjaman produktif, terdapat dua kemungkinan: memperoleh keuntungan atau menderita kerugian. Jika dalam menjalankan bisnisnya peminjam mengalami kerugian, dasar apa yang dapat membenarkan kreditor menarik keuntungan tetap secara bulanan atau tahunan dari peminjam?
Coba bayangkan, seandainya si pemberi pinjaman diminta untuk menjalankan usahanya sendiri, apakah dapat dijamin bahwa dia pasti dan akan selalu untung, minimal sekian persen dalam keadaan apapun, termasuk dalam keadaan resesi atau krisis? Jelas, jawabannya tidak. Lantas, mengapa ia mewajibkan keuntungan minimal kepada orang lain, padahal dia sendiri pun tidak mampu melaksanakannya.
Apabila keuntungan yang diperoleh sama atau kurang dari nilai bunga yang harus dibayar setiap bulan atau setiap tahun, bagaimana kreditor dibenarkan untuk mengambil bagiannya? Ia sendiri tidak melakukan apa-apa, sedangkan peminjam bekerja keras, meluangkan waktu, tenaga, kemampuan, bahkan mungkin modalnya sendiri, malah tidak memperoleh apa-apa.
Kreditor bisa saja menginvestasikan modalnya pada usaha-usaha yang baik agar ia menuai keuntungan. Bila itu yang menjadi tujuan, cara yang wajar dan praktis baginya adalah dengan kerjasama usaha dan berbagi keuntungan, bukan meminjamkan modal dengan menarik keuntungan tanpa menghiraukan apa yang terjadi di sektor riil.
Seandainya ia ingin membantu untuk tujuan kemanusiaan, hukum yang berlaku adalah qardhul hasan atau pinjaman kebajikan. Dalam kaitan ini Allah SWT berfirman:
'e2'80'9cSiapakah yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.'e2'80'9d (Q.S. al-Hadiid: 11).
Akan tetapi jika ia ingin berbisnis dengan dananya, maka banyak hal yang bisa dia lakukan, baik secara jual beli, bagi hasil, sewa, dan lain-lain. Tapi di sisi lain, memang juga tidak adil bila si pemilik dana telah mengkontribusikan dana bersama mitranya, sementara seluruh keuntungan diambil mitranya, tanpa memberikan sesuatupun kepada investor. Karena itu akadnya harus jelas sejak awal, apakah akan mengunakan skema murabahah, salam, istishna, mudharabah, musyarakah atau yang lainnya. Semua sudah ada aturan mainnya yang adil bagi kedua belah pihak.
Dari penjelasan ini maka bisa ditarik kesimpulan bahwa kriteria penetapan riba dengan menyandarkan pada tujuan peminjaman uang itu -- digunakan untuk tujuan produktif atau konsumtif 'e2'80ldblquote bukanlah kriteria yang tepat. Wallahu a'e2'80'98lam bis-Shawab.